OPTIMALISASI
KESEHATAN PREVENTIF
DALAM
RANGKA MENINGKATKAN KESEHATAN
PRAJURIT TNI
AD DAN KELUARGANYA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Umum.
a. Kesehatan
besar berpengaruhnya terhadap prajurit dan keluarganya dalam menyelesaikan
tugas yang dibebankan kepada para prajurit. Hanya prajurit yang sehat yang akan dapat menyelesaikan
tugas dengan lebih cepat dan lebih baik hasilnya. Keluarga prajurit secara tidak
langsung berpengaruh pada penyelesaian tugas yang dibebankan pada prajurit, keluarga
yang sehat akan mendorong dan menciptakan semangat bekerja yang lebih baik bagi
para prajurit.
b. Kesehatan
preventif atau kesehatan pencegahan adalah salah satu elemen kesehatan yang
harus ditingkatkan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan bagi prajurit dan
keluarganya. Kesehatan preventif rekatif mudah dilaksanakan dan lebih murah
biayanya dibandingkan dengan upaya kesehatan yang lain. Dewasa ini banyak
penyakit yang diderita prajurit dan keluarganya ataupun masyarakat pada umumnya
yang sebenarnya dapat dicegah untuk tidak berkembang menjadi penyakit yang
parah dengan berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara serius atau
sungguh – sungguh.
c. Terdapat berbagai upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan prajurit dan keluarganya melalui
kesehatan preventif seperti adanya peraturan yang mengikat, sosialisasi yang
intensif, keteladanan, pengawasan yang ketat serta sangsi dan penghargaan
mengenai kesehatan preventif. Berbagai upaya tersebut dapat dilakukan oleh
Komandan Satuan, Staf dan lembaga Pendidikan terhadap prajurit dan keluarganya.
2. Maksud dan Tujuan.
a. Maksud. Tulisan ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan prajurit dan keluarganya serta konsepsi
kesehatan preventif sebagai fungsi komando untuk meningkatkan derajat kesehatan
prajurit dan keluarganya dalam rangka mengoptimalkan pelaksanakan tugas
pajurit.
b. Tujuan. Tulisan ini bertujuan sebagai sumbang pemikiran kepada
Pimpinan TNI AD tentang konsepsi kesehatan preventif sebagai fungsi komando
untuk memperbesar hasil yang dicapai dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan prajurit dan keluarganya, sehingga pelaksanakan tugas pajurit dapat
optimal.
3. Ruang
Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup
tulisan ini meliputi latar belakang pemikiran, pelaksanaan kesehatan preventif
saat ini, faktor – faktor yang berpengaruh, kesehatan preventif yang diharapkan
dan upaya optimalisasi kesehatan preventif dalam rangka meningkatkan kesehatan prajurit
dan keluarganya yang disusun dengan tata urut sebagai berikut :
a. Pendahuluan.
b. Latar Belakang Pemikiran.
c. Pelaksanaan Kesehatan Preventif saat
ini.
d. Faktor
– faktor yang Berpengaruh.
e. Kesehatan Preventif yang Diharapkan.
f. Optimalisasi
Kesehatan Preventif dalam rangka meningkatkan kesehatan prajurit dan
keluarganya.
e. Penutup.
4. Metode
dan Pendekatan. Pembahasan
dikaji dari sudut pandang kesehatan preventif dalam meningkatkan derajat
kesehatan, dengan mengedepankan metode deskriptif analisis.
5. Pengertian.
a.
Prajurit adalah warga negara yang mengabdikan diri
dalam dinas keprajuritan atas kesediaan sendiri, yang terdiri atas Prajurit
Karier, Prajurit Sukarela Dinas Pendek dan Prajurit Cadangan Sukarela, maupun
karena diwajibkan berdasarkan UU, yang terdiri atas Prajurit Wajib dan Prajurit
Cadangan Wajib.
b. Kesehatan menurut UU Kesehatan RI No.
23 Tahun 1992 adalah sejahtera diri badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi.
c. Kesehatan Prajurit adalah kondisi
kesehatan yang optimal, sehingga siap tugas setiap saat, yang diupayakan secara
berkesinambungan mulai dari seleksi penerimaan sampai pemisahan.
d. Kesehatan Preventif adalah upaya
pembinaan kesehatan yang dititikberatkan pada usaha pencegahan penyakit, dalam
rangka meminimalkan terjadinya kesakitan, kecacatan dan kematian.
e. Fungsi Komando adalah fungsi organik
militer yang penyelenggaraannya menjadi kewajiban dan tanggung jawab Komandan /
Pimpinan.
f. Higiene Perorangan adalah segala
upaya, pekerjaan dan kegiatan untuk mendapatkan derajat kesehatan yang optimal
melalui tindakan kebersihan dan peningkatan kesehatan yang ditujukan kepada
individu atau perorangan.
g. Sanitasi Lingkungan adalah usaha
kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai
faktor lingkungan yang mempengaruhi atau mungkin mempengaruhi derajat kesehatan
manusia.
BAB II
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
6. Umum. Terdapat dua hal yang
menjadi latar belakang pemikiran, yang pertama landasan pemikiran tentang
kesehatan preventifpenyakit yang berkembang dewasa ini yang sebenarnya dapat
dicegah menjadi landasan pemikiran. Berbagai penyakit tersebut diakibatkan oleh berbagai permasalahan yang
ada di satuan.
7. Kesehatan
Sangat Penting dalam Pelaksanaan Tugas Prajurit.
a. Sapta Marga mencantumkan bahwa Prajurit
TNI AD adalah prajurit yang tidak mengenal menyerah dan senantiasa siap sedia
berbakti kepada negara dan bangsa. Untuk tidak mengenal menyerah dalam setiap
pelaksanaan tugas dan senantiasa siap sedia berbakti kepada negara dan bangsa sangat
dibutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima, agar kondisi fisik dan mental
prima dibutuhkan kondisi kesehatan yang prima pula.
b. Sumpah Prajurit juga
menekankan taat pada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan
dan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab. Agar dapat melaksanakan
hal tersebut diatas juga dibutuhkan kondisi fisik yang optimal, kondisi fisik
optimal membutuhkan kondisi kesehatan yang prima dan terpelihara.
c. Undang – undang Republik Indonesia
Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, mengatakan bahwa yang dimaksud sehat
adalah sejahtera diri badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial ekonomi. Prajurit pada dasarnya juga sama seperti
komponen bangsa yang lain yang memerlukan kesehatan akan tetapi dengan bentuk
tugas yang spesifik sebagai unsur pertahanan bangsa, maka jika diaplikasikan
pada Prajurit TNI AD, maka Kesehatan Prajurit adalah kondisi kesehatan yang
optimal, sehingga siap tugas setiap saat, yang diupayakan secara
berkesinambungan mulai dari seleksi penerimaan sampai pemisahan
8. Permasalahan
Kesehatan Prajurit dikaitkan dengan Kesehatan Preventif. Dewasa ini banyak berkembang berbagai penyakit di
masyarakat yang dapat juga diderita oleh prajurit dan keluarganya seperti Demam
Berdarah, Flu Burung, HIV/AIDS yang sering kita dengar sampai Chikungunya dan
Antrax yang jarang kita dengar ataupun berbagai penyakit akibat kegiatan
militer seperti cidera dan gangguan kejiwaan serta akibat pengaruh lingkungan
seperti narkoba. Sebenarnya berbagai penyakit yang mematikan seperti tersebut
diatas dapat dicegah melalui kegiatan kesehatan preventif, sehingga akibat
fatal dan menimbulkan kerugian jiwa dan harta benda yang besar dapat
dihilangkan ataupun paling tidak diminimalisir. Dibanding terkena penyakit
seperti tersebut diatas yang memerlukan biaya yang besar, maka kegiatan
kesehatan preventif yang diupayakan oleh satuan memerlukan biaya yang lebih murah.
Berbagai masalah kesehatan prajurit dihubungkan dengan kesehatan preventif
adalah :
a.
Masih ditemukan prajurit ataupun keluarganya yang
menderita berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengoptimalkan
kesehatan preventif.
b.
Pelaksanaan pembinaan kesehatan preventif masih
belum optimal, terutama peran, keteladanan dan pengawasan Komandan Satuan yang
memiliki kewenangan memerintahkan anggota satuan untuk melaksanakan kegiatan
kesehatan preventif.
c.
Tidak adanya sangsi bagi yang tidak melaksanakan
atau pujian bagi yang tidak melaksanakan kesehatan preventif.
d.
Anggota Satuan kurang sungguh – sungguh melaksanakan
berbagai upaya pencegahan penyakit melalui kegiatan kesehatan preventif.
e.
Lembaga Pendidikan kurang berperan mensosialisasikan
kesehatan preventif.
BAB III
PELAKSANAAN KESEHATAN PREVENTIF SAAT INI
9. Umum.
Permasalahan
tentang kesehatan preventif tergambar dengan jelas pada kegiatan
pembinaan kesehatan saat ini. Kesehatan preventif bukan upaya kesehatan
utama yang dilaksanakan oleh prajurit dan keluarganya. Terdapat beberapa
kondisi pelaksanaan kesehatan preventif
pada saat ini yang masih dirasakan kurang optimal.
10. Kesehatan
Preventif Dibandingkan Upaya Kesehatan Lainnya. Kesehatan
preventif pada saat ini masih dipandang sebelah mata atau kurang mendapat
perhatian. Prajurit dan keluarganya membutuhkan kesehatan jika sudah sakit,
dengan mendatangi pos kesehatan atau Rumah Sakit. Padahal jika sudah sakit akan
mengakibatkan penderitaan bagi penderita dan biaya yang besar bagi penderita
dan negara, memang bagi prajurit dan keluarganya tidak ditanggung biaya
pengobatan, akan tetapi penyelenggaraan kesehatan bagi prajurit dan keluarganya
tetap menjadi beban negara. Pencegahan penyakit terlupakan atau dianggap tidak
penting, kesehatan preventif yang relatif lebih mudah pelaksanaannya dan murah
biayanya tetap kurang mendapat perhatian.
11. Kondisi
Pelaksanaan Kesehatan Preventif Saat Ini. Kesehatan
preventif disosialisasikan dengan metoda himbauan kepada seluruh anggota satuan
dan atau beserta keluarganya agar berperilaku hidup sehat yang memperhatikan
kesehatan individu maupun kesehatan lingkungan. Pelaksanaaan kesehatan
preventif dengan metoda himbauan saat ini dilaksanakan oleh Perwira Kesehatan
organik satuan ataupun dari Satuan Atasan yang memberikan penyuluhan tentang
Kesehatan Preventif dihadapan anggota satuan, Komandan Satuan dan Staf
terkadang hadir dalam penyuluhan tersebut, tetapi tidak jarang hanya diwakili
oleh staf terkait saja dalam hal ini Perwira Kesehatan / dokter satuan / Pasi
Personil. Dengan sistim pembinaan kesehatan preventif yang dilaksanakan
sekarang ini dengan metoda himbauan dalam pelaksanaannya akan diperoleh hasil sebagai
berikut :
a. Sebagian prajurit dan keluarganya ada
yang melaksanakan secara sungguh – sungguh dan mengikuti semua petunjuk yang
diberikan oleh petugas kesehatan, sebagian lagi mengikuti petunjuk untuk
melaksanakan kesehatan preventif
sekedarnya saja dan sebagian lagi tidak peduli dengan himbauan yang
diberikan baik oleh petugas kesehatan ataupun oleh Komandan Satuan.
b. Komandan Satuan dapat secara aktif
melaksanakan pembinaan kesehatan preventif di satuannya ataupun tidak. Hal ini
disebabkan tidak adanya peraturan yang mengikat seorang Komandan Satuan untuk
berperan aktif membina Kesehatan Preventif di satuannya.
c. Tidak ada sangsi bagi Komandan Satuan
maupun Anggota Satuan yang tidak melaksanakan kesehatan preventif dan tidak ada
penghargaan bagi satuan yang baik kondisi kesehatan prajurit dan keluarganya.
d. Pelaksanaan kegiatan kesehatan
preventif dapat benar – benar dilaksanakan ataupun sambil lalu saja sekedar
melaksanakan perintah atau juga hanya membuat laporan tanpa pelaksanaan.
e. Perwira Kesehatan organik satuan / Pakes
Satuan Atasan tidak memiliki kemampuan berupa untuk menggerakkan hidup sehat
bagi seluruh anggota satuan, selain sekedar menghimbau.
f. Jika terjadi suatu kasus penyakit yang
luar biasa, ditangani seperti aksi pemadam kebakaran, yaitu dengan menyembuhkan
penyakit yang diderita oleh prajurit ataupun keluarganya, tanpa bisa menyentuh
inti persoalan yang sebenarnya yaitu tindakan pencegahan terhadap penyakit
tersebut.
g. Lembaga pendidikan sebagai salah satu
temapat pembelajaran tidak berkewajiban mensosialisasikan berbagai upaya
pencegahan penyakit. Kesehatan preventif hanya menjadi tanggung jawab petugas
kesehatan saja.
BAB IV
FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH
12. Umum. Berbagai faktor dapat
mempengaruhi timbulnya kondisi sakit pada diri prajurit ataupun keluarganya
akibat tidak dilaksanakannya kesehatan preventif. Mulai dari faktor lingkungan
strategis sampai dengan kondisi internal dan eksternal pada diri prajurit dan
keluarganya.
13. Faktor
Lingkungan Strategis. Lingkungan
strategis dapat memiliki pengaruh yang kuat dalam hal :
a. Lingkungan strategis yang berasal dari
luar negeri dapat mengakibatkan negatif.
Pengaruh negatif tersebut berupa berubahnya gaya hidup seperti makanan siap
saji yang tinggi lemak dan rawan terhadap jantung dan kegemukan, selain itu pengaruh
lainnya berupa gaya hidup bebas yang rawan terhadap penyakit kelamin, narkoba
ataupun efek buruk dari minuman keras.
b. Perkembangan strategis dari dalam
negeri antara lain kondisi Indonesia beberapa tahun kemudian berupa jumlah
penduduk yang semakin besar dan tingkat perekonomian yang sulit lepas dari
berbagai krisis multidimensional. Kondisi perekonomian yang buruk akan
berdampak pada penghasilan riil prajurit yang diterima, walaupun nilai nominal
naik akan tetapi nilai intrinsiknya cenderung menurun. Pendapatan prajurit yang
menurun akan berdampak pula pada menurunnya tingkat kesehatan prajurit.
14. Faktor Internal dan Eksternal.
a.
Faktor
Kondisi Internal.
1)
Kepedulian
prajurit dan keluarga yang rendah dalam bidang kesehatan.
a) Lebih mengejar keinginan untuk
mempunyai materi / benda dan melupakan kesehatan.
b) Kurang pemahaman tentang gizi, baik gizi bagi prajurit maupun gizi bagi
keluarga seperti bagi balita maupun istri yang sedang hamil. Dapat timbul
akibat yang kurang baik pada gizi yang berlebihan ataupun yang kurang asupan
gizi.
(1) Pada diri prajurit yang kelebihan gizi
dapat kegemukan dan yang kekurangan gizi dapat mengakibatkan postur tubuh
nornal tidak tercapai.
(2) Pada anggota keluarga masalah yang
sering timbul pada kekurangan gizi, masih ditemui anak yang terhambat
pertumbuhannya dan istri prajurit yang anemia atau sering sakit akibat
kekurangan gizi.
c) Kurang dilaksanakannya higiene
perorangan serta higiene mars pada saat pelaksanaan kegiatan militer. Dapat
terjadi gangguan pencernaan seperti sakit perut, tipus dan lain – lain penyakit
pencernaan, pada yang mengabaikan higiene mars dapat terjadi gangguan pada
kulit.
2)
Gaya hidup yang kurang memperhatikan kesehatan.
a) Ketegangan pikiran dan kurangnya
relaksasi ataupun rekreasi, dapat akibatkan Stres ataupun gangguan kejiwaan
yang lain.
b) Tidak seimbangnya antara kegiatan
kerja, istirahat dan makanan yang dikonsumsi yang dapat timbulkan berbagai
penyakit seperti gangguan pada metabolisme tubuh sampai Hepatitis.
3) Menyerahkan persoalan kesehatan hanya
kepada bagian kesehatan satuan (
Sikes sampai Rumkit ). Prajurit
dan keluarganya memang sudah mendapat jaminan pelayanan kesehatan gratis dari
negara, akan tetapi kalau sudah sakit akan berakibat :
a) Mungkin sembuh, mungkin tidak yang
bermuara pada kematian atau kecacatan.
b) Kalaupun sembuh, dengan sering
mengkonsumsi obat dapat menyebabkan resistensi penyakit pada obat yang
diberikan.
c) Perawatan, dokter dan obat sudah
ditanggung negara, akan tetapi biaya lain – lain seperti transportasi dan biaya
penunggu pasien tidak ditanggung negara.
d) Kehilangan biaya, waktu dan tenaga
ketika sakit yang sebenarnya tidak perlu kalau sehat.
b.
Faktor
Kondisi Eksternal.
1)
Faktor Ketiadaan Regulasi / Peraturan. Belum adanya peraturan yang mengikat
seluruh Komandan Satuan dan Anggota Satuan mengakibatkan pelaksanaan kegiatan kesehatan preventif
tidak optimal.
2)
Faktor Unsur Pimpinan. Unsur pimpinan mulai dari yang tertinggi di satuan sampai
yang terendah masih kurang peduli untuk memberikan petunjuk, penekanan ataupun
perintah untuk memperhatikan pentingnya kesehatan preventif. Hal ini disebabkan
belum adanya aturan yang mengatur dan pertanggung jawaban kalau prajurit
ataupun keluarganya banyak yang sakit.
3)
Faktor Kondisi Pelaksanaan Tugas Prajurit. Masih sering terjadi kegiatan
militer yang dilakukan prajurit mengakibatkan penyakit, ketidakmampuan,
kecacatan ataupun korban jiwa. Hal ini dapat terjadi akibat kelalaian,
kecerobohan baik dari pelaku mapun penyelenggara latihan. Cidera latihan, sengatan panas, trauma
dapat terjadi dalam kegiatan militer.
4) Faktor Lembaga Pendidikan. Lembaga pendidikan pada saat ini
juga masih sangat kurang mensosialisasikan kesehatan preventif untuk mencegah
berbagai penyakit yang dapat timbul, terutama pada ketiadaan mata pelajaran
tentang kesehatan preventif di hampir semua jenis pendidikan.
5) Faktor
Lingkungan.
a) Faktor Lingkungan dalam ksatrian. Perumahan yang sudah tidak layak huni /
kumuh , terutama pada ksatrian yang berada di daerah perkotaan akan mempermudah
timbulnya penyakit pada prajurit ataupun keluarganya. Sampah yang menumpuk dan
pembuangan air yang tidak lancar dapat memicu timbulnya penyakit.
b) Faktor
Lingkungan disekitar ksatrian.
(1)
Kesehatan Lingkungan. Ksatrian bagaimanapun tidak dapat memisahkan diri dari
masyarakat sekitarnya. Kalau masyarakat sekeliling ksatrian lingkungannya jelek
/ rawan terhadap penyakit, juga akan berpengaruh pada kesehatan prajurit dan
keluarganya yang berada di ksatrian.
(2) Pergaulan. Pergaulan dengan masyarakat yang kurang baik, juga berdampak
buruk pada kesehatan, seperti minum minuman keras, narkoba sampai pergaulan
bebas yang memicu penyakit kelamin.
BAB V
KESEHATAN PREVENTIF YANG DIHARAPKAN
15. Umum. Kondisi sehat prajurit
dan keluarga sangat diharapkan untuk dapat melaksanakan tugas secara optimal.
Untuk mencapai hal tersebut salah satunya diperlukan pelaksanaan kesehatan
preventif yang optimal.
16. Kesehatan
Prajurit dan Keluarga yang diharapkan. Pelaksanaan kesehatan
preventif secara sungguh – sungguh akan menciptakan kondisi sehat jasmani dan
rohani prajurit dan keluarganya, terutama pada diri prajurit yang banyak
melakukan aktifitas jasmani, kondisi sehat jasmani dan rohani mutlak
diperlukan. Kondisi sehat diri dan lingkungan, serta bebas dari penyakit akan
mempermudah pelaksanaaan tugas yang diberikan kepada prajurit. Demikian juga
kondisi sehat keluarga prajurit akan berdampak pada keberhasilan pelaksanaan
tugas prajurit. Biaya yang dikeluarkan oleh negara juga akan berkurang secara
berarti jika kesehatan preventif yang dilaksanakan berhasil mencegah berbagai
penyakit yang tidak perlu terjadi jika dilakukan pencegahan.
17. Pelaksanaan
Kesehatan Preventif yang diharapkan.
a. Prajurit yang baik akan taat pada
atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan seperti tercantum dalam
Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Dengan adanya perintah Komandan Satuan agar
seluruh prajurit dan keluarganya melaksanakan kegiatan kesehatan preventif,
maka seluruh anggota satuan akan melaksanakan berbagai upaya pencegahan
penyakit seperti disampaikan oleh Perwira Kesehatan ataupun Komandan Satuan,
seperti :
1)
Melaksanakan Higiene Perorangan ataupun Higiene
Mars.
2)
Menciptakan Sanitasi Lingkungan Ksatrian yang sehat.
3)
Pelaksanaan Kegiatan Militer yang Memperhatikan Faktor
Kesehatan.
4)
Menciptakan pergaulan yang sehat, baik sesama
anggota satuan ataupun dengan masyarakat sekitar satuan.
b. Komandan satuan dibantu
stafnya berperan aktif melaksanakan pembinaan kesehatan preventif di satuannya,
baik dengan memberikan perintah ataupun melalui contoh teladan kehidupan sehari
– hari Komandan Satuan dan stafnya.
c. Terdapat sangsi bagi yang tidak
melaksanakan upaya pencegahan penyakit dan diberikan penghargaan bagi yang
melaksanakan dengan baik. Sangsi dan penghargaan diberikan kepada anggota
satuan oleh Komandan Satuannya dan juga kepada Komandan Satuan oleh Komandan
Satuan Atasan.
d.
Dilaksanakan pengawasan yang ketat pada pelaksanaan
di lapangan oleh Komandan Satuan dan unsur Staf Satuan agar diperoleh kepastian
dilaksanakannya secara sungguh – sungguh berbagai upaya kesehatan preventif.
e.
Lembaga pendidikan berperan aktif untuk
mensosialisasikan kesehatan preventif kepada peserta didiknya, sehingga upaya
mencegah penyakit lebih berhasil.
BAB VI
OPTIMALISASI KESEHATAN PREVENTIF
18. Umum. Mencegah penyakit jauh lebih baik dari
mengobati penyakit, semboyan ini harus tertanam kuat pada diri prajurit dan
keluarganya. Pimpinan TNI tidak hanya menjadikan semboyan tersebut sebagai semboyan
saja, akan tetapi diimplementasikan dalam kehidupan prajurit sehari – hari. Kesehatan
preventif tidak akan berhasil dengan baik dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan prajurit dan
keluarganya kalau hanya dibiarkan berjalan seadanya tanpa ada penekanan atau
perintah dan sosialisasi yang berulang –
ulang. Diperlukan kebijaksanaan dari
pimpinan atau Komando Atas untuk membuat peraturan tentang kesehatan preventif,
kemudian disosialisasikan dengan intensif, keteladanan dan pengawasan yang
ketat dari unsur pimpinan serta adanya sangsi dan penghargaan.
19. Tujuan. Optimalisasi Kesehatan Preventif bertujuan untuk memperbesar hasil dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan prajurit dan keluarganya. Diharapkan dengan
adanya berbagai upaya optimalisasi tersebut, prajurit yang sehat dan siap
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dapat tercapai.
20. Sasaran. Dengan optimalisasi
pembinaan kesehatan preventif, diharapkan diperoleh hasil yang lebih optimal
dalam pembinaan kesehatan preventif di satuan, sebagai berikut :
1)
Anggota satuan melaksanakan secara sungguh – sungguh
kegiatan upaya pencegahan penyakit / kesehatan preventif, karena ada penekanan
dari komandan satuan berupa perintah dan pengawasan yang harus dilaksanakan
oleh seluruh anggota satuan tanpa kecuali.
2)
Ada sangsi bagi yang tidak melaksanakan upaya –
upaya pencegahan penyakit / kesehatan preventif, baik bagi anggota satuan
ataupun komandan satuan, sehingga ada rasa takut untuk tidak melaksanakan
sesuai peraturan yang berlaku.
3) Lembaga Pendidikan berperan aktif
mensosialisasikan kesehatan preventif melalui mata pelajaran kesehatan
preventif yang diberikan, terutama kepada pendidikan pertama dan pembentukan.
21. Subyek. Yang menjadi subyek dari
kegiatan optimalisasi kesehatan preventif adalah :
a. Komandan Satuan.
b. Staf.
c. Lembaga Pendidikan.
22. Obyek. Seluruh anggota Satuan
menjadi obyek dari pelaksanaan kegiatan optimalisasi kesehatan preventif.
23. Metoda. Berbagai metoda
dapat dilaksanakan untuk mendukung kesehatan preventif sebagai
fungsi komando :
a. Peraturan yang mengikat. Peraturan tentang Kesehatan Preventif harus
mengikat, baik kepada unsur pimpinan yang akan memberikan penekanan ataupun
perintah dan juga kepada unsur bawahan yang akan melaksanakan tindakan
pencegahan penyakit di bidang kesehatan melalui kesehatan preventif.
b. Sosialisasi yang Intensif. Peraturan yang dibuat hanya tinggal
peraturan jika tidak disosialisasikan secara intensif. Pastikan melalui
sosialisasi yang diselenggarakan, prajurit mengerti dengan tindakan yang harus
diambil dalam kesehatan preventif mencegah penyakit yang mungkin timbul.
c. Keteladanan. Setelah adanya peraturan, kemudian
disosialisasikan dengan intensif, alangkah lebih baiknya dan akan lebih
berhasil jika ada keteladanan dari unsur pimpinan dengan tindakan / perbuatan
sehari – hari yang mencerminkan gaya hidup sehat dan upaya melakukan pencegahan
penyakit.
d. Pengawasan yang ketat. Kegiatan kesehatan preventif sebagai
fungsi komando akan mewajibkan unsur pimpinan / komandan untuk melakukan
pengawasan secara ketat terhadap upaya kesehatan preventif yang sedang
dilaksanakan. Pengawasan wajib dilakukan, mengingat akan adanya sangsi jika
kegiatan kesehatan preventif yang dilaksanakan tidak berhasil yang ditandai
dengan banyaknya angka kesakitan yang muncul.
e. Punish
And Reward. Sangsi
dan penghargaan diberikan kepada unsur pimpinan yang bertanggung jawab
akan pelaksanaan kesehatan preventif sebagai fungsi komando, sangsi dapat
berupa sangsi administratif ataupun teguran kepada Komandan / Pimpinan Satuan
dan penghargaan dapat berupa pernyataan pujian dan sebagainya.
24. Sarana dan Prasarana. Sarana dan
prasarana yang dapat digunakan untuk melaksanakan kesehatan preventif sebagai
Fungsi Komando antara lain :
a. Buku saku prajurit tentang kesehatan
preventif .
b.
Peranti Lunak berupa buku Kesehatan Preventif sebagai
fungsi komando.
c.
Hanjar Pusat Pendidikan tentang kesehatan preventif
yang aplikatif di lapangan, mudah dilaksanakan
dan efektif untuk mencegah penyakit.
d.
Ruangan / lapangan sebagai tempat Komandan / Pimpinan
memberikan perintah / penekanan tentang kesehatan preventif.
e.
Alat Kesehatan Preventif seperti :
1) Swing
Fog untuk memberantas nyamuk.
2) Alat pemeriksaan makanan dan minuman.
3) Anti nyamuk / serangga.
25. Upaya
Optimalisasi Kesehatan Preventif dalam rangka Meningkatkan Kesehatan Prajurit
dan Keluarganya.
a. Peraturan yang mengikat.
1)
Komandan Satuan.
a) Materi Peraturan tentang Kesehatan
Preventif diharapkan disyahkan melalui Keputusan Panglima TNI, sehingga
memiliki kekuatan untuk mengikat seluruh unsur Komandan / Pimpinan Satuan dari semua
tingkatan untuk melaksanakan program pembinaan Kesehatan Preventif di
lingkungan TNI. Selain kepada unsur komandan / pimpinan peraturan tentang
Kesehatan Preventif mengikat Lembaga
Pendidikan TNI untuk mengajarkan mata pelajaran Kesehatan Preventif pada jenis
pendidikan tertentu. Dengan adanya partisipasi lembaga pendidikan TNI
diharapkan keberhasilan pelaksanaan program Kesehatan Prevnetif dapat lebih
tinggi.
b)
Peraturan yang telah dibuat dijabarkan kembali dalam
bentuk Prosedur Tetap ( Protap ) agar aplikatif dilapangan dan sesuai dengan
situasi dan kondisi di satuan. Protap yang dikeluarkan harus sudah mengatur
sampai tingkat teknis dilapangan tentang penyelenggaraan Kesehatan Preventif,
selain itu juga sudah diatur tentang sangsi bagi satuan bawahan atau anggota
satuan yang tidak melaksanakan kegiatan kesehatan preventif juga penghargaan
bagi yang satuan bawahan dan anggota satuan yang melaksanakan kegiatan
kesehatan preventif dengan baik.
2)
Staf. Staf
berperan untuk membuat rancangan tentang Protap Penyelenggaraan Kesehatan
Preventif yang merupakan penjabaran dari Peraturan Satuan Atas tentang
Kesehatan Preventif. Hal – hal yang tercantum dalam Peraturan Satuan Atas
tentang Kesehatan Preventif yang dianggap perlu dapat dimasukan dalam Protap
yang dibuat, selain itu dapat dimasukan pula keinginan – keinginan Komandan
Satuan atau ada saran dari staf sebagai tambahan untuk melengkapi Protap yang
dibuat. Setelah rancangan Protap selesai akan diminta persetujuan Komandan
Satuan dan apabila disetujui maka akan ditandatangani. Protap yang sudah
ditandatangani Komandan Satuan didistribusikan oleh Staf kepada Komandan Satuan
Bawahan untuk dilaksanakan.
3)
Lembaga Pendidikan. Peratuan
yang dibuat Oleh Komando Atas juga akan mengikat Lembaga Pendidikan untuk
melaksanakan Pembinaan Kesehatan Preventif baik untuk organik satuan ataupun
peserta didik. Jenis pendidikan
yang dapat diwajibkan mengajarkan mata pelajaran kesehatan preventif adalah
Dikma, Diktuk dan Dikbangum dengan jam pelajaran yang cukup memadai, minimal 10
JP.
b. Sosialisasi yang Intensif .
1) Komandan Satuan. Komandan Satuan mempunyai peran sangat besar dalam
keberhasilan pelaksanaan sosialisasi program Kesehatan Preventif di Satuannya,
hal ini disebabkan Komandan Satuan merupakan panutan bagi anggotanya baik di
pangkalan maupun di daerah operasi. Secara teknis, program Kesehatan Preventif
merupakan tugas dan tanggung jawab Perwira kesehatan, tetapi keberhasilan
pelaksanaan program tersebut sangat tergantung pada Komandan Satuan. Komandan
Satuan mempunyai tanggung jawab besar terhadap keberhasilan pelaksanaan
kesehatan preventif di lapangan, sebab setiap kegiatan berada di bawah tanggung
jawab Komandan Satuan. Beberapa hal yang menunjukkan pentingnya peran Komandan
Satuan:
a) Banyak wilayah di Indonesia adalah
merupakan daerah endemis penyakit menular, yang dapat membahayakan kesehatan
prajurit yang bertugas di daerah tersebut. Upaya pencegahan yang dimulai dari
pembekalan pengetahuan, menjaga kesehatan perorangan, menjaga kebersihan
lingkungan, imunisasi dan usaha pencegahan yang lain membutuhkan peranan langsung dari Komandan Satuan di berbagai
tingkatan.
b) Higiene perorangan merupakan tindakan
praktis dilapangan, guna mempertahankan kesehatan dan mencegah timbulnya
penyakit, sehingga prajurit selalu dalam kondisi siap tempur. Higiene
perorangan merupakan upaya menjaga kebersihan pribadi yang meliputi :
kebersihan kulit, rambut, tangan, kaki, gigi , mulut dan bagian tubuh yang lain
dari berbagai pengaruh lingkungan, alat peralatan yang dipakai, atau menjaga
keamanan dari makan dan minuman. Peranan dari Komandan Satuan untuk
mensosialisasikannya sangat menentukan keberhasilan kegiatan higiene perorangan
ini.
c) Lingkungan sangat besar pengaruhnya
terhadap kesehatan prajurit. Berbagai penyakit yang disebabkan lingkungan
tempat tinggal, latihan dan penugasan dapat mengenai prajurit dan keluarganya
misalnya hypothermia, heat stroke, infeksi penyakit - menular, gigitan binatang berbisa, tumbuhan
dan hewan beracun dan sebagainya. Kondisi lingkungan ini dapat diatasi dengan
persiapan pasukan yang baik, yaitu dengan adaptasi, aklimatisasi, kesamaptaan,
periksaan kesehatan dan lain – lain, dimana peranan atas berbagai kegiatan yang
dilakukan oleh Komandan Satuan sangat
besar.
d) Pada saat latihan maupun tugas operasi,
prajurit sering terpapar berbagai faktor penyebab penyakit akibat kegiatan
militer yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Berbagai faktor tersebut antara
lain faktor fisik, kimia, biologi, fisiologi dan psikologi. Kecelakaan kerja
umumnya terjadi karena ketidaktaatan terhadap prosedur tetap yang berlaku.
Kecelakaan memang tidak dapat diduga kapan akan terjadi, tetapi pencegahan
harus dilakukan secara maksimal untuk mengurangi kerugian pada prajurit ataupun
satuan.
e) Prajurit TNI dengan kegiatan fisik yang
berat dan mobilitas tinggi, membutuhkan gizi yang baik. Status gizi yang baik
akan tercermin pada bentuk tampilan tubuh yang baik dan sehat. Selain untuk
memenuhi kebutuhan akan zat gizi, makanan dapat juga sebagai media penularan
penyakit, sehingga harus dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.
2) Staf. Staf berfungsi membantu Komandan
Satuan menyelenggarakan Pembinaan Kesehatan Preventif di satuan. Perwira
Kesehatan dibantu Staf Personil merancang rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan, kemudian disarankan, apabila disetujui Komandan Satuan, unsur
staf langsung menyelenggarakan kegiatan pembinaan Kesehatan Preventif di
Satuan. Macam dan Jadwal kegiatan serta siapa yang memberikan pembekalan atau
penyuluhan tentang Kesehatan Preventif dapat ditentukan oleh Staf Personil
dibantu Perwira Kesehatan.
3) Lembaga Pendidikan. Lembaga Pendidikan milik
TNI dapat berperan aktif dalam menunjang keberhasilan program kesehatan
preventif melalui mata pelajaran kesehatan preventif yang diajarkan pada
berbagai jenis pendidikan. Bahan Ajaran yang dibakukan dalam bentuk Naskah
Sekolah dan keseragaman Kurikulum, Jam Pelajaran serta Guru Militer yang
cakap ( Perwira kesehatan
yang ada di Pusdik ) akan menyeragamkan pengetahuan kesehatan preventif peserta didik di seluruh Pusdik lingkungan
TNI.
c. Keteladanan.
1) Komandan Satuan.
a) Pada umumnya perhatian Komandan Satuan
terhadap pelaksanaan kesehatan preventif masih rendah, hal ini terutama
disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelaksanaan
program kesehatan preventif itu sendiri. Oleh karena itu untuk menjaga
kesehatan prajurit dan keluarganya, Komandan Satuan memang harus bertanggung
jawab penuh terhadap keberhasilan program tersebut, baik dengan perintah
ataupun keteladanan.
b) Keteladanan Komandan Satuan dalam
bidang Kesehatan Preventif dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan,
baik kebersihan pribadi dan keluarganya juga terhadap kebersihan lingkungannya,
selain itu juga menjaga keseimbangan antara bekerja, berpikir, makan dan
istirahat serta rekreasi. Kebersihan pribadi tercermin pada penampilan sehari –
hari mulai dari rambut, pakaian, kulit, kuku, sepatu yang selalu dalam kondisi
bersih. Kebersihan lingkungan tercermin pada kebersihan rumah, sekitar rumah,
yang kalau dilihat sudah menggambarkan rumah yang sehat. Bekerja dan berpikir
yang dimbangi dengan gizi makanan yang sehat serta istirahat yang cukup,
kemudian rekreasi menghindarkan dari tekanan jiwa.
c) Keteladanan ini menjadi sangat penting,
dikarenakan kegiatan Kesehatan Preventif yang dilakukan oleh Komandan Satuan
langsung ataupun tidak langsung akan penjadi panutan bagi seluruh anggota
Satuan. Posisi Komandan Satuan harus paling terdepan dalam hal keteladanan
menjalankan pencegahan terhadap berbagai penyakit.
2) Staf. Staf berdiri dibelakang Komandan
Satuan dalam hal memberikan keteladanan dalam hal pencegahan berbagai penyakit
/ Kesehatan Preventif. Unsur Staf terutama Perwira Kesehatan harus menjadi
contoh teladan yang utama, hal ini disebabkan Perwira Kesehatan dan petugas
kesehatan yang lain adalah personil satuan yang paling mengerti tentang
kesehatan dibandingkan personil satuan lainnya.
3) Lembaga Pendidikan.
a) Selain mengoperasionalkan mata
pelajaran kesehatan preventif, lembaga
pendidikan juda dapat dijadikan contoh pelaksanaan kegiatan kesehatan preventif
yang baik. Fasilitas pendidikan yang disediakan harus mencerminkan bahwa
kesehatan preventif telah dilakukan di lembaga pendidikan tersebut, misalnya
barak dan ruang kelas yang bersih, banyak jendela dan memungkinkan cahaya
matahari dapat masuk keruang – ruang barak dan kelas. Ruang makan bersih dan
higienis dengan alat – alat makan yang bersih pula.
b) Selain fasilitas pendidikan, kegiatan
proses belajar mengajar ataupun ekstra kurikuler juga mencerminkan kepada para
peserta didik bahwa kesehatan preventif yang pada intinya mencegah berbagai
penyakit menjadi teladan untuk di aplikasikan di satuan peserta didik masing – masing.
Seperti kegiatan latihan yang direncanakan dengan baik, rumput yang selalu
dipotong pendek ataupun tidak ada air yang tergenang di lembaga pendidikan.
d. Pengawasan
yang Ketat. Pelaksanaan
Program Kesehatan Preventif dapat dilakukan sesuai metoda yang dipilih untuk
berbagai aspek kesehatan preventif, disesuaikan dengan kondisi daerah, personil
dan tugas yang diberikan. Hal – hal yang lebih dominan pada suatu daerah, belum
tentu menjadi dominan pada daerah lainnya, beberapa aspek dari upaya kesehatan
preventif yang dapat dilakukan di satuan antara lain :
1)
Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.
2)
Pencegahan dan penanggulangan cidera latihan.
3)
Pencegahan dan penanggulangan gangguan jiwa.
4)
Pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi dan
mulut.
5)
Pencegahan dan penanggulangan penyakit akibat
lingkungan.
6)
Higiene Perorangan dan Mars.
7)
Sanitasi Lingkungan.
8)
Kesehatan Kerja Militer.
9)
Gizi Prajurit dan Keluarga.
10)
Pemeriksaan Kesehatan.
Pengawasan yang dapat
dilakukan antara lain :
1) Komandan Satuan.
a) Kesehatan Preventif yang direncanakan
dan diselenggarakan harus mendapat pengawasan dari unsur Komandan Satuan.
Ketika program kesehatan preventif masih direncanakan, pengawasan berfungsi
mencegah perencanaan yang dibuat tidak dapat menjawab tujuan maupun sasaran
yang diharapkan, sedangkan dalam tahap pelaksanaan pengawasan berfungsi
mensinkronkan antara perencanaan dengan kegiatan yang dilaksanakan.
b) Cidera dalam latihan dapat dikarenakan
oleh berbagai penyebab yaitu karena faktor manusianya sendiri, karena beban dan
perlengkapan yang tidak sesuai / tepat atau dapat juga karena kondisi medan dan
cuaca. Latihan yang direncanakan dan diselenggarakan dengan baik akan
meminimalkan cidera akibat latihan tersebut, dalam hal ini peranan Komandan
Satuan untuk merencanakan dan menyelenggarakan dan mengawasi latihan dengan
baik sangat besar.
c) Komunitas militer adalah termasuk yang
rentan terhadap gangguan jiwa, karena para prajurit dan keluarganya akan
terpapar oleh stressor penugasan, latihan berat, dan kehidupan
militer yang spesifik yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Oleh karena
itu untuk menciptakan prajurit dengan kesehatan mental yang prima, diperlukan
pembinaan yang terprogram dan terpadu mulai dari rekrutmen sampai dengan
pemisahan. Peranan dan pengawasan dari Komandan Satuan sangat menentukan
keberhasilan program kesehatan jiwa ini.
2) Staf. Perencanaan
diharapkan dapat aplikatif artinya perencanaan harus dapat dilaksanakan. Pada
saat penyelenggaraan program kesehatan preventif, pengawasan diharapkan dapat
mencegah penyelenggaraan keluar dari perencanaan yang telah dibuat. Dengan
pengawasan yang intensif diharapkan hasil yang diperoleh dapat maksimal sesuai
dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Pengawasan oleh staf lebih teknis
sifatanya dibandingkan dengan pengawasan yang dilakukan oleh Dansat, setiap
staf melaksanakan pengawasan sesuai dengan bidangnya masing – masing dapat
berbentuk :
b)
Pengawasan fisik di lapangan.
b) Pengawasan administratif.
3) Lembaga Pendidikan. Pengawasan dalam bidang kesehatan
preventif juga dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan. Kegiatan yang dilakukan
peserta didik mulai bangun pagi sampai tidur harus terus menerus diawasi oleh
Pembina Pendidikan agar tidak sampai menimbulkan penyakit bagi peserta didik.
Jika ada yang melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan upaya pencegahan
penyakit langsung dikoreksi dan dilakukan pembetulan. Pola hidup teratur dan
sehat peserta didik yang mengaplikasikan
kesehatan preventif akan terbawa dalam kehidupan sehari – hari di satuan
tempat berdinas.
c.
Sangsi
dan Penghargaan.
1) Komandan Satuan. Komandan Satuan akan mengawasi para Komandan Bawahan dalam
melaksanakan perintah yang diberikan tentang pelaksanaan pembinaan kesehatan
preventif di bagiannya / unitnya. Jika ada yang tidak memenuhi sasaran
diberikan sangsi berupa teguran sampai sangsi administratif, sementara yang
berhasil melaksanakan pembinaan kesehatan preventif diberikan penghargaan.
Komandan Satuan juga mendapat penilaian dari Komndan Atasan yang akan memberikan
sangsi atau penghargaan sesuai pelaksanaan pembinaan kesehatan preventif di
lapangan.
2) Staf. Staf membantu Komandan Satuan dalam
hal memberikan penilaian pelaksanaan pembinaan kesehatan Preventif yang
dilaksanakan oleh Komandan Bawahan. Seain penilaian , staf juga diharapkan
dapat memberikan saran perbaikan pembinaan Kesehatan Preventif di kemudian
hari.
3) Lembaga Pendidikan.
a)
Terhadap peserta didik, lembaga pendidikan
memberikan sangsi dan penghargaan terhadap peserta didik yang telah melaksanakan
berbagai upaya pencegahan penyakit.
b)
Sebagai
Satuan, akan mendapat sangsi atau penghargaan dari Komandan Satuan Atasan
tentang pelaksanaan kesehatan preventif yang telah dilakukan.
BAB V
PENUTUP
26. Kesimpulan.
a. Dewasa ini banyak berkembang berbagai
penyakit di masyarakat yang dapat juga diderita oleh prajurit dan keluarganya
seperti Demam Berdarah, Flu Burung, HIV/AIDS. Selain itu masih sering terjadi
kegiatan militer yang dilakukan prajurit mengakibatkan penyakit,
ketidakmampuan, kecacatan ataupun korban jiwa. Hal ini dapat terjadi akibat
kelalaian, kecerobohan baik dari pelaku mapun penyelenggara latihan.
b. Kondisi sehat jasmani dan rohani akan
melancarkan aktifitas sehari – hari prajurit dan keluarganya, terutama pada
diri prajurit yang banyak melakukan aktifitas jasmani, kondisi sehat jasmani
dan rohani mutlak diperlukan. Kondisi sehat diri dan lingkungan, serta bebas
dari penyakit akan mempermudah pelaksanaaan tugas yang diberikan kepada
prajurit. Demikian juga kondisi sehat keluarga prajurit akan berdampak pada
keberhasilan pelaksanaan tugas prajurit.
c. Berbagai faktor dapat mempengaruhi
timbulnya berbagai penyakit mulai dari faktor lingkungan strategis sampai
lingkungan internal dan eksternal dari prajurit dan keluarganya. Faktor –
faktor tersebut dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit yang mematikan,
terutama jika terlambat dalam penanganan penyakit tersebut.
d. Kesehatan Preventif sangat penting
untuk ditingkatkan pembinaannya mengingat sebenarnya berbagai penyakit yang
mematikan dapat dicegah melalui kegiatan kesehatan preventif, sehingga akibat
fatal dan menimbulkan kerugian jiwa dan harta benda yang besar dapat
dihilangkan ataupun paling tidak diminimalisir.
Terdapat berbagai upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pembinaan
kesehatan preventif antara lain adanya peraturan yang mengikat, sosialisasi
yang intensif, keteladanan, pengawasan yang ketat dan adanya sangsi dan
penghargaan.
27. Saran.
Dibuat Peraturan tentang
Kesehatan Preventif sebagai Fungsi
Komando yang disyahkan melalui Keputusan Panglima TNI, sehingga memiliki
kekuatan untuk mengikat seluruh unsur Komandan / Pimpinan Satuan dari berbagai
tingkatan dan Lembaga Pendidikan TNI untuk melaksanakan dan menjaga
keberhasilan pelaksanaan program Kesehatan Preventif di lingkungan TNI.
No comments:
Post a Comment