Tuesday, July 26, 2016

HIV AIDS



PENCEGAHAN PENYEBARAN HIV/AIDS
DAN DAMPAK YANG DAPAT TERJADI TERHADAP PRAJURIT TNI

BAB - I
PENDAHULUAN

1.       Umum

a.             Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun  negatif  terhadap segala aspek yang berkaitan dengan bangsa Indonesia. Seks bebas,  penyalahgunaan  narkotika, zat aditif, Psikotropika dan sejenisnya adalah salah satu imbas negatif dari globalisasi yang saat ini rawan terutama  bagi bangsa Indonesia. Yang pada akhirnya perilaku negatif tersebut dapat menyebarkan wabah AIDS.

b.            Secara umum bahaya HIV/AIDS  dapat ditularkan oleh siapa saja termasuk personel TNI, dengan menggunakan jarum suntik bekas, seksual bebas, melalui transfuse darah, atau komponennya. Resiko infeksi oleh virus ini selalu  bertambah akibat  adanya mitra sexual yang bertambah pula. Akibat menggunakan jarum suntik bersama-sama di kalangan pemakai obat-obat terlarang, atau juga pada pasien homofilia serta orang yang memerlukan transfuse darah yang telah ditulari virus.    Sebagian besar individu yang terjangkit virus AIDS tidak menunjukkan gejala dalam beberapa tahun tertentu, malah terlihat  sehat. Sebagian orang memperlihatkan gejala –gejala seperti badan lelah, demam, hilang selera makan, timbangan badan merosot, diare, berkeringat di waktu malam, kelenjar membengkak biasanya dibagian leher, ketiak, dan selangkangan.


c.              Pemahaman Komprehensif HIV/AIDS  atau Human Immunodeficincy  
Virus dan AIDS (Acquired Immune Defisiency Syndrome) dikalangan prajurit dapat dikatakan sangat minim. Penyakit yang mempunyai ciri menurunnya kekebalan tubuh terhadap penyakit. Orang yang mengidap AIDS mudah sekali terserang penyakit berbahaya yang menyerang siapa saja yang berakibat kehilangan kekebalan tubuh.

d.            Peran TNI merupakan upaya preventive dengan penyuluhan dan pendidikan kepada anggota, keluarga, maupun masyarakat. Mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di wilayah NKRI yaitu dengan melakukan penyuluhan di wilayah dimana masyarakat memiliki resiko tertular lebih besar khususnya di lingkungan TNI sendiri.   Selain itu TNI juga berperan dalam menjaga wilayah perbatasan NKRI terhadap para pendatang dari warga Negara yang dianggap sebagai akses berkemungkinan membawa virus HIV/AIDS.

e.             Pada tahun 1999 dilaporkan 50 % dari 18.000 personel Angkatan Darat Amerika beresiko tinggi terhadap HIV. Penyebabnya antara lain, seringnya personil angkatan darat Amerika Serikat  berganti-ganti pasangan dalam hubungan seksual. Apalagi ditambah dengan budaya Amerika yang sangat bebas, mengakibatkan penyebaran virus ini, begitu marak khususnya di personil angkatan darat Amerika.[1]

2.       Maksud dan Tujuan.
a.      Maksud.          Penulisan essay ini dimaksudkan untuk memberi gambaran yang realistis dalam pengkajian  pencegahan penyebaran HIV/IADS dikalangan prajurit dan memberikan pengetahuan tentang penyakit yang sangat mematikan.

b.       Tujuan.    Penulisan essay ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan masukan kepada pimpinan dalam mewujutkan pencegahan penyebaran HIV/IADS dikalangan prajurit serta sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan  untuk meningkatkan kesehatan di lingkungan TNI.

3.       Ruang Lingkup dan Tata Urut.

a.       Ruang lingkup.  Penulisan essay ini membahas sekitar latar belakang, fakta, dan analisa yang dibatasi pada lingkup pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan dampak yang dapat terjadi terhadap prajurit TNI.

b.       Tata urut.   Penulisan essay ini disusun dengan ruang lingkup dan tata urut sebagai berikut :
1)           Pendahuluan.
2)       Latar belakang Pemikiran.
3)       Data dan Fakta.
4)       Analisa.
5)       Penutup.
 
4.       Metode Pendekatan.  Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah analisis pragmatis, dokumentasi, dan pendekatan Studi Kepustakaan.

5.       Pengertian.

a.      AIDS.   AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang berati kumpulan penyakit yang disebabkan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang disebut dengan HIV atau Human Immunodeficiency Virus.   AIDS  disebabkan oleh virus yang diberi nama HTLV III  (human T-lymhotropic   virus, tipe III); LAV (lumpadenopathy-associated virus); atau ARV (AIDS elated retrovirus). Infeksi virus ini tidak selalu mengakibatkan AIDS. Banyak orang yang terkena infeksi tetap saja sehat. Orang lain dapat mengembangkan penyakit yang bervariasi, dari ringan sampai berat; penyakit ini disebut ARC (AIDS-related complex). Virus AIDS kini disebut HIV (Human immunodeficiency virus). Namun, meskipun demikian virusnya dapat menyerang kekebalan tubuh, yang akhirnya membawa kepada kematian, kepada siapapun yang terkena termasuk prajurit.

b.    Kondom  adalah suatu alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan lateks (sejenis karet) yang dikenakan pada alat kelamin.  Prof. Dr. Dadang Hawari mengatakan bahwa konsentrasi virus HIV/AIDS terbanyak adalah terdapat pada cairan liang senggama, sperma dan darah.

c.    Seks bebas oleh sebagian masyarakat diartikan sebagai perilaku hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan.

d.   Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya proses kehamilan.

e.   PSK oleh pemerintah diartikan sebagai pekerja sex komersial. Profesi yang tidak halal ini, dikenal juga sebagai pelacur, profesi pelacur sendiri sangat potensial terkena virus mematikan HIV/AIDS.

f.    Orientasi seksual. Adalah keterkaitan secara seksual dan emosi terhadap jenis kelamin tertentu.

f.     Prilaku seksual yang beresiko. Adalah prilaku yang dilakukan karena adanya dorongan seksual yang berdampak pada penularan virus HIV.


BAB – II
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

6.       Umum         Sampai saat ini diperkirakan, penderita AIDS berjumlah lebih dari 42 juta jiwa. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15.000 pasien per hari. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 5,6 juta. Total lebih dari 20 juta jiwa telah meninggal karena AIDS.[2] Sejak penemuannya, ribuan peneliti di seluruh dunia telah ikut berperan dalam penelitian HIV. Lebih dari 125 ribu artikel tentang HIV telah dipublikasi, namun masalah AIDS masih belum terpecahkan, bahkan  beberapa usaha telah dilakukan, baik pencegahannya maupun pengobatannya. Vaksin untuk pencegahan dan pengobatannya telah dikembangkan tapi belum cukup efektif. berbagai obat juga telah dikembangkan dan diaplikasikan secara klinik, tapi masih belum cukup efektif untuk menyembuhkan pasien penderita HIV/AIDS.

7.       Landasan Pemikiran.

a.       Landasan Idiologi dan Konstitusi.
1)       Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, Kepribadian Bangsa Indonesia, Way of Life. Bangsa Indonesia, sumber dari segala sumber hukum dan sebuah tataran hukum ideal negara Indonesia. Oleh karena TNI bersama-sama dengan komponen Bangsa lainnya wajub menjaga dan mempertahankan NKRI dari segala ancaman terhadap kelangsungan hidup Bangsa, trmasuk diantaranya pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS di lingkungan TNI harus berlandaskan Pancasila.

a)       Sila pertama “ Ketuhanan Yang Maha Esa “ mengandung makna tentang penegakan keimanan kepada  Tuhan YME merupakan landasan yang kokoh dalam mengantisipasi salah satu akibat penyebaran virus HIV/AIDS.

b)       Sila kedua “ Kemanusiaan yang adil dan beradab “ merupakan landasan tentang yang menyangkut jiwa, persaan  dan   hati nurani sesame manusia terutama sikap masyarakat terhadap pengidap HIV.

             2)       Sapta Marga merupakan pedoman yang fundamental dan mutlak untuk menjadi arahan dan petunjuk bagi setiap Prajurit agar tetap komitmen pada aturan dan tetap selalu menjadi unsur yang tangguh dalam menjaga kedaulatan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Dalam pelaksanaan kegiatan kehidupan bernegara terlepas apa yang telah digariskan dalam GBHN sebagai landasan operasional.

             3)      Sumpah Prajurit adalah wujud tertulis oleh Prajurit yang diucapkan sebagai sumpah kepada Tuhan YME dan kepada Negara.
     4)       Wawasan Nusantara yang merupakan satu kesatuan pandang   negara Indonesia.  Setiap warga negara harus mempunyai  wawasan yang sama terhadap negara Indonesia sehingga terwujudnya satu kesatuan yang kuat guna mempertahankan NKRI.
     5)       8 Wajib TNI merupakan butiran yang harus dijunjung dan di laksanakan oleh setiap trajurit untuk dilaksanakan dalam hubungan dengan masyarakat guna memperkokoh persatuan dan kesatuan Bangsa.

b.      Landasan Operasional.
  1)       Undang-undang RI No. 23 tahun 1992, dimana disini diatur  mengenai kesehatan. Dalam pelaksanaan kegiatan kehidupan bernegara   terlepas apa yang telah digariskan dalam GBHN sebagai landasan  operasional.

                   2)       Keputusan Menko Kesra No.9/skep/V/1994 tanggal 16/6/1994 tentang  
                   Strategi nasional penaggulangan HIV/AIDS di Indonesia.           

3)       Lampiran “G” Keputusan Pangab No.Kep/01/P/I/1984 tanggal 20-1-1984

4)      Juklak Pangab No.Juklak/01/IV/1994 tanggal 7/4/1994 tentang   Penanggulangan HIV/AIDS di lingkungan TNI.

5)         Juknik Kapuskes ABRI No.Juknik/01/II/1995 tanggal 15/03/1995     Penaggulangan HIV/AIDS di lingkungan ABRI bagi petugas   kesehatan ABRI.

6)       SK Panglima TNI tahun 1986 tentang pencegahan HIV/AIDS di   bidang TNI.

8.       Landasan teori.

a.           Pemahaman HIV/AIDS.                    Hingga kini obat HIV/AIDS belum ditemukan, maka  prajurit TNI yang terkena virus HIV/AIDS dapat dipastikan akan meninggal dunia dan hal ini merupakan suatu kesia-siaan belaka. Meskipun personil TNI bertambah, namun yang terkena HIV/AIDS juga bertambah tentu sebuah kondisi yang sia-sia dan malah merugikan negera. Sehingga perlu diupayakan menekan penyebaran virus HIV/AIDS di kalangan prajurit TNI.
             1)       Berbagai pengobatan telah diterapkan untuk penyembuhan AIDS. Yang banyak dipraktikkan sampai saat ini adalah pengobatan dengan obat

              2)       kimia (chemotherapy). Obat-obat ini biasanya adalah inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus, seperti inhibitor reverse transcriptase dan  protease. Zidovudin-lebih dikenal dengan AZT-adalah obat AIDS yang pertama kali digunakan. Obat yang merupakan inhibitor enzim reverse transciptase ini mulai digunakan sejak tahun 1987. Setelah itu dikembangkan inhibitor protease seperti indinavir, ritonavir, dan nelfinavir. Sampai saat ini Food and Drug Administration (FDA) Amerika telah mengizinkan penggunaan sekitar 20 jenis obat-obatan.

b.            Bahaya HIV/AIDS.       HIV/AIDS ini sangat berbahaya dan akan berdampak vatal bagi anggota TNI, karena bisa berakibat kepada kematian. Mengingat bahayanya tersebut, maka pada tahun 1997-1998 Depatemen Pertahanan bekerjasama dengan Puskes TNI Direktorat Kesehatan TNI AD telah melakukan skrining terhadap calon anggota TNI. Survey dilakukan di 5 Kodam: Jakarta, Bandung, Magelang, Bali dan Papua. Resiko prajurit yang dinas jauh dari keluarga dan lingkungan yang “bebas” mengakibatkan kecenderungan memiliki kebutuhan seks yang besar, selanjutnya melakukan hubungan seks tanpa tau resiko. Dan akhirnya jumlah pengidap HIV/AIDS dikalangan TNI Bertambah.

c.             Gejala-gejala.     Sebagian besar anggota TNI yang terjangkit virus AIDS tidak menunjukkan gejala, malah merasa sehat. Sebagian anggota TNI yang terkena setelah 5 sampai 10 tahun kedepan akan menunjukkan gejala seperti : badan lelah, demam, hilang selera makan, timbangan badan merosot, diare, berkeringat di waktu malam, kelenjar membengkak, biasanya di bagian leher, ketiak, dan selangkangan.AIDS adalah penyakit mematikan. Mayoriatas orang yang terkena infeksi HIV akan memperkembangkan AIDS atau demensia, atau penyakit neurologis yang berkaitan dengannya dalam tempo 10 tahun. Disamping itu tingkat fatalitas berupa kematian yang diakibatkan oleh virus HIV adalah 90 %. 
          Sangat penting bagi parjurit TNI memahami bahaya HIV/AIDS.   Diupayakan agar prajurit  diberikan arahan yang persuasif, kerja sama dan   komunikasi di semua angkatan sehingga terwujud visi, misi, persepsi dan interpretasi yang sama dalam menanggulangi masalah HIV/AIDS di lingkungan TNI, dengan melihat tendensi peningkatan jumlah kasus infeksi yang ada saat ini dimana hingga akhir Desember 2001 tercatat kasus HIV sebanyak 1904 orang dan kasus AIDS sebanyak 671 orang.[3]

9.       Permasalahan.       Virus HIV/AIDS sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia khususnya prajurit TNI, yang sampai saat ini belum ditemukan obat penangkalnya. Oleh karenanya ini menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi anggota TNI untuk menghidarinya.  namun masalah ini belum maksimal mendapat sorotan dari sebagian pimpinan TNI.   Pengidap HIV/AIDS dikalangan anggota TNI yaitu mencapai 27% dari jumlah pengidap yang berhasil di temukan, kemudian tenaga kerja Indonesia 17%, pekerja seks komersial (PSK) 15% nelayan 10%, dan selebihnya terdiri dari mahasiswa, buruh, dan sopir. Kenyataan ini sangat   memprihatinkan dan diperlukan suatu pemikiran bagi pimpinan dan komandan satuan untuk mencari terobosan dalam rangka mencegahan bagi anggotanya.




BAB – III
DATA DAN FAKTA


10.     Umum
HIV/AIDS penyakit yang berbahaya bagi prajurit TNI dan resiko tingkat kematiannya sangat tinggi dan paling mematikan. Karena tingginya korban AIDS, sehingga menjadi catatan khusus Perserikatan Bangsa Bangsa.  Penyebab kematian adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. HIV masuk ke peredaran darah via darah, sperma atau cairan vagina. Ia kemudian merusak sistem kekebalan tubuh sehingga tidak lagi mampu melawan bibit penyakit yang masuk. Penyakit yang tadinya tidak berbahaya bagi tubuh akan menjadi sangat berbahaya bagi si pengidap HIV. Menyikapi perkembangan ini Mabes TNI mengambil langkah-langkah yang bekerjasama dengan Badan Anti AIDS Internasional yang berpusat di Amerika Serikat. Badan ini yang membantu penanganan terutama penekanan bahaya HIV diseluruh dunia termasuk Indonesia. Karena sulitnya penyembuhan serta tingginya tingkat penyebaran, HIV dan AIDS dipandang sebagai musuh internasional pada umumnya dan TNI pada khususnya serta menjadi agenda besar antar negara.

11.     Program Pembentukan Pear Leader Training.

        Departemen Pertahanan RI bersama MABES TNI telah menjalankan program Pear Leader Training, yaitu suatu program pelatihan yang diselenggarakan oleh personel prajurit tiap angkatan yang tergabung dalam satu team, bertujuan untuk melatih terhadap kurang lebih 40 orang Perwira dan 80 orang bintara ditiap wilayah dari tiap angkatan dan baru sampai 3 wilayah yaitu Jakarta, Jayapura dan Medan. Kondisi ini kenyataannya  belum mencapai hasil maksimal dan  menemui beberapa kendala berupa :

a.       Program latihan belum merata kesemua wilayah atau kotama di seluruh Indonesia. Melihat jumlah prajurit TNI yang berada di beberapa wilayah akan menghadapi ancaman berbahaya penularan HIV karena diusia prajurit antara 19 s/d 38 tahun memiliki kebutuhan bioligis yang tinggi dihadapkan dengan penugasan keluar yang selalu meninggalkan keluarga.

b.      Realisasi hasil latihan yang telah dilaksanakan ditiap wilayah  belum dapat dirasakan karena proses atau sasaran yang diharapkan memerlukan waktu yang cukup lama. Keinginan prajurit untuk memeriksakan darah ke laboratorium milik pemerintah  agar diketahui terjangkit atau tidaknya HIV pada dirinya tidak pernah ada meskipun bersifat Cuma-Cuma.

c.       Pemahaman tentang bahaya penyakit ini kurang dipahami oleh sebagian Komandan atasan seperti penekanan kepada anggotannya, pengawasan, sanksi atau tindakan hukum bagi pelanggar susila, kondisi inilah yang diantaranya berdampak kurangnya perhatian kepada anggota terutama program latihan   penyuluhan tentang HIV/AIDS yang dilaksanakan di satuannya.

d.      Akibat penyakit HIV ini belum banyak diketahui atau disaksikan  oleh sebagian besar Prajurit karena memang dirasakan publikasinya belum maksimal, sehingga banyak yang belum mengerti  dan menganggap ringan tentang bahaya ini.

e.       Penggunaan alat kontrasepsi (condom) sesuai penelitian  dapat menekan laju penularan HIV bagi prilaku yang beresiko tinggi belum dipahami sebagai tindakan  pencegahan penularan, bahkan  memasyarakat memandang tabu apabila seorang laki-laki membeli atau memakainya.

f.       MABES TNI pada tahun 2002 telah memberikan secara gratis alat pengaman berupa kondom yang disiapkan untuk prajurit yang memerlukannya, namun masalah ini menjadi kontropersi di sebagian besar  pimpinan TNI dengan peranggapan  seolah-olah TNI melegalkan  prajurit untuk bertindak  negative dengan beresiko tinggi.

12.     Keadaan Prajurit.

 Kesehatan bagi anggota TNI adalah hal yang sangat penting,  Dalam masalah HIV/AIDS, disadari oleh prajurit bahwa virus ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia (pengidap) khususnya prajurit TNI, yang sampai saat ini belum ditemukan obat penangkalnya. Oleh karenanya ini menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi anggota TNI untuk menghidarinya.  MABES TNI pada tahun 2002 melalui Dinas kesehatan angkatan darat telah memberikan alat pengaman berupa kondom yang disiapkan untuk diberikan kepada prajurit yang memerlukannya, namun masalah ini mendapat sorotan negatif dari sebagian pimpinan TNI yang seolah-olah melegalkan  prajurit untuk bertindak  negative yang beresiko tinggi.

a.           Pengidap HIV/AIDS dikalangan anggota TNI yaitu mencapai 27% dari jumlah pengidap yang berhasil di temukan, kemudian tenaga kerja Indonesia 17%, pekerja seks komersial (PSK) 15% nelayan 10%, dan selebihnya terdiri dari mahasiswa, buruh, dan sopir.[4] Kenyataan ini sangat memprihatinkan dan diperlukan suatu pemikiran bagi pimpinan dan komandan satuan untuk mencari terobosan dalam rangka mencegahan bagi anggotanya.

b.      Depkes Republik Indonesia menyampaikan bahwa pengidap HIV yang baru tertular sudah menyebar hampir di seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Dari kasus baru itu tidak disebutkan berapa jumlah penderita dari prajurit TNI, tetapi suatu kenyataan pada tahun 2004 telah meninggal 3 orang personel TNI yang bertugas di Papua yang diakibatkan AIDS, sedangkan yang sudah terinfeksi dilakukan pemeriksaan setiap bulannya.

13.     Besarnya Pengidap HIV/AIDS.

a.           Jumlah Pengidap HIV/AIDS di dunia dari tahun ke tahun meningkat dengan tajam. PBB  menerbitkan laporan tahunan tentang AIDS. Pada tahun 2003 tercatat 4,8 juta orang terinfeksi virus penyebab AIDS, HIV. Angka ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak pertama kali AIDS muncul di tahun 1981. Secara total sudah 37,8 juta orang terkena HIV atau mengidap AIDS diseluruh dunia. Total korban ini menurut perkiraan PBB akan terus bertambah di masa mendatang. Terutama karena belum ditemukan obat yang paling efektif untuk menyembuhkan AIDS. Faktor lain adalah lambannya penanggulangan penyebaran virus HIV.[5] Afrika merupakan wilayah epidemi terparah yang kini disusul Eropa Timur dan Asia.

1)                HIV/AIDS yang “menyerang” prajurit, baik di Indonesia maupun Luar Negeri.
2)                Prajurit TNI yang terjangkit HIV/AIDS.

b.       HIV/AIDS di Indonesia seperti dirilis Depkes Republik Indonesia  dalam triwulan Juli-September 2004 (diperbarui setiap 3 bulan sekali) terdapat tambahan 838 kasus AIDS dan 473 pengidap HIV baru dan ini menyebar hampir di seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Dari kasus baru itu terdapat anak-anak di bawah usia 1 tahun 4 kasus AIDS dan 6 terinfeksi HIV. Namun yang terbanyak adalah mereka dalam usia produktif 15-39 tahun yang angka AIDS mencapai 724 kasus AIDS dan 392 terinveksi HIV. Jika dilihat jenis kelamin, laki-laki 716 AIDS, perempuan 94 AIDS, tak diketahui 28 AIDS, dan tak disebutkan 473 HIV.[6]

c.       Ternyata banyak anggota TNI yang terjangkit virus HIV/AIDS. Sebagian besar mereka, anggota TNI yang pernah tugas di luar negeri. Namun berapa jumlahnya, masih dirahasiakan, sebagian besar mereka adalah anggota yang baru pulang bertugas di luar negeri, seperti Kamboja dan Thailand. anggota TNI yang bertugas di dalam negeri atau daerah konflik di Indonesia, relatif bersih dari serangan HIV itu. Sebagai solusi untuk menanggulanginya, Mabes TNI maupun Dephan mengadakan terapi dengan menggunakan obat-obatan. Saat ini sejumlah pasien anggota TNI tengah dirawat di beberapa rumah sakit besar di Indonesia. Bahkan untuk mengontrol anggota yang terjangkit virus mematuikan itu, lebih mudah dibandingkan dengan masyarakat umum.

14.     Prajurit TNI yang positif HIV/AIDS.

a.           Infeksi HIV di kalangan prajurit meningkat dari tahun ke tahun sejak ditemukannya kasus pertama pada tahun 1987. Data terakhir yang dilaporkan Ditkes MABES TNI tercatat bahwa hingga akhir september 2001
telah didentifikasi 278 kasus HIV Positif yang pada suatu saat nanti akan masuk ke stadium AIDS. Lebih dari 75 % diantaranya adalah TNI.[7] Dari penelitian Epidemiolodis didapatkan bahwa prajurit TNI masih tergolong
dengan prevalensi rendah dibanding dengan negara luar, namun di beberapa wilayah telah ditemukan lebih dari 5 % yang telah terinfeksi HIV seperti Papua, Jakarta, medan dan surabaya. Kelompok yang beresiko tinggi pada umumnya diakibatkan hubungan sex dengan berganti-ganti pasangan (WTS). Hal ini yang menunjukan suatu kondisi kritis bagi TNI khususnya dan  negara pada umumnya.

b.          Pada tahun 1997-1998 Departemen Pertahanan bekerjasama dengan Puskes TNI Direktorat Kesehatan TNI AD telah melakukan skrining terhadap calon anggota TNI yang melaksanakan pendidikan pembentukan tentang pemahaman masalah HIV/AIDS. Survey ini dilakukan di lima Kodam : Jakarta (Kesdam Jaya), Bandung (Kesdam III Siliwangi), Magelang (Kesdam IV/Diponegoro), Bali (Kesdam IX/Udayana) dan Papua (Kesdam VIII/Trikora), dari data yang disimpulkan rata-rata 31 % tidak mengetahui, 42 % mengenal, 27 % tahu.[8]

15.     Prajurit TNI yang mati karena HIV/AIDS.

Beberapa tahun yang lalu kasus HIV telah teridentifikasi di kalangan personil TNI yang pulang melakukan tugas di Kamboja dengan UNTAC, dan semuanya telah meninggal dunia karena HIV/AIDS.  Lingkungan TNI (Prajurit) hampir tiap tahunnya kehilangan kurang lebih 8 orang personelnya akibat penyakit ini terutama didaerah yang tingkat penyebarannya tinggi seperti Jayapura, Jakarta, Medan dan Surabaya.

16.     Prajurit Militer Luar Negeri yang terjangkit HIV/AIDS.

a.           Sebanyak 141 personel militer Amerika terbukti terinfeksi virus HIV/AIDS yang disebabkan oleh berbagai perilaku, antara lain seringnya berganti pasangan, hubungan seks yang tidak aman, minuman keras, infeksi menular seksual. Dari jumlah tersebut diantaranya :
1)           Angkatan Darat       = 48 Personel
2)           Angkatan Laut        = 57 Personel
3)           Angkatan Udara      = 22 Personel
4)           Marinir                   = 14 Personel
b.           Konferensi AIDS ke-15 di Bangkok, memberikan satu solusi dalam memerangi virus HIV/AIDS, yaitu dengan metode ABC. “A” (Abstinence) yang berarti berpantang dari melakukan hubungan seks bagi yang belum menikah, “B” (Being Faithful) yang berarti setia kepada pasangannya bagi yang sudah menikah, dan “C” adalah cara yang paling terakhir dan apabila terpaksa yaitu Condom.   Metode tersebut sudah dicoba diterapkan di yang hasilnya ternyata positif.. Sementara itu di Thailand, negara yang terkenal dengan kondomisasinya justru mempertanyakan mengapa remaja di negara Indonesia yang terjangkit HIV/AIDS meningkat dari 9 persen menjadi 11 persen pada awal tahun ini.[9]

17.     Permasalahan  Yang  Dihadapi.

a.           Problema yang dirasakan hingga saat ini, belum optimalnya kinerja aparat pemerintahan, TNI, Dinas Kesehatan dan instansi-instansi terkait dalam penanggulangan masalah HIV/AIDS ini. Salah satu penyebabnya adalah prinsip adat ketimuran kita yang masih tinggi sehingga sungkan dalam memunculan HIV/AIDS ke dalam wacana publik. Padahal HIV/AIDS merupakan penyakit mematikan yang kini menjadi masalah internasional. Penyakit ini menyerang manusia dari berbagai usia mulai bayi, anak kecil sampai orang dewasa. Karena sifat penularannya yang sangat cepat dan sampai kini belum ada obatnya, sementara  di  Indonesia ada kecenderungan meningkat, maka sudah seharusnya diwaspadai bersama oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk jajaran TNI.


BAB – IV
A N A L I S A

18.     Umum.      Mencermati gambaran yang mengerikan diatas, terutama bagi anggota TNI, maka diperlukan sebuah penanganan yang maksimal dalam pencegahan dan penanggulan HIV/AIDS. Sebab dari berbagai hasil studi, tampak bahwa rata-rata angka terinfeksi HIV/AIDS di kalangan prajurit  lebih tinggi dibandingkan warga sipil. Hasil studi ini ditemukan tidak hanya di negara-negara berkembang melainkan juga negara-negara maju.  Dari kondisi saat ini, untuk mencapai hasil yang diharapkan terdapat faktor-faktor yang berpengaruh baik dari luar maupun dari dalam negeri.  Kebiasaan lembaga militer merekrut kelompok usia aktif secara seksual untuk penugasan prajurit di tempat yang jauh dari  masyarakat dan keluarganya, serta kondisi tugas yang membuat mereka kehilangan kontak fisik dengan pasangan hidup (istri) ataupun pasangan hubungan seksual mereka yang kemudian membuat mereka mencari pelarian ke pemakaian narkoba dan wanita penjaja seks.

 

19.     Analisa Permasalahan.

a.  Optimalisasi Program Pear Leader Training.

1)           Program Pear Leader Training ternyata dapat secara efektif menurunkan penularan  virus HIV/AIDS, namun demikian ada hal-hal perlu dijadikan perhatian untuk mengokohkan pragram ini. Perubahan perilaku adalah tujuan utama program ini, karena didasarkan pada pengetahuan yang di dapat prajurit dan ketrampilan yang dipelajari, dan sosialisasi adalah metode yang efektif untuk menurunkan perilaku berisiko.

 

2)         Yang perlu disempurnakan dalam program pear leader training

antaralain,arti pendidikan bagi prajurit TNI, bukanlah pelatihan semata-mata, tetapi  harus melalui pendidikan komprehensif (paripurna), yang menyangkut tiga aspek tingkah laku yaitu aspek kognitif, affektif dan psikomotorik. Aspek kognitif yaitu kemampuan menyerap pengetahuan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual dan kecerdasan parjurit TNI. Aspek affektif yaitu kemampuan merasakan dan menghayati hal-hal yang telah diperoleh dari aspek kognitif. Aspek psikomotorik yaitu kemampuan merubah sikap dan perilaku sesuai aspek kognitif dan aspek affektif. Ketiga tingkah laku ini saling mempengaruhi dan harus seimbang (equilibrium) dalam membentuk prajurit TNI.

 

3) Kemudian, prajurit TNI dibutuhkan pula untuk melestarikan keseimbangan

hubungan dengan Allah, manusia, alam (lingkungan hidup) dan diri sendiri agar memperoleh nilai amal positif (diridhai Allah). Menurut Prof Dadang Hawari, kajian tentang peran dan fungsi agama dalam kehidupan dan kesehatan telah membuktikan bahwa adanya hubungan yang positif antara komitmen agama dan kesehatan. Komitmen agama pada diri seseorang dapat melindungi dan mencegah dirinya dari berbagai penyakit fisik maupun mental, meningkatkan kemampuan dalam mengatasi penyakit yang sedang dideritanya, serta mampu mempercepat penyembuhan bagi prajurit TNI.

 

4)   Dalam upaya pengendalian virus HIV/AIDS ada beberapa prinsip dasar dalam

paer leader training, yang harus dipahami oleh prajurit TNI. Pertama, upaya pengendalian harus dilaksanakan prajurit dan institusi TNI. Kedua, setiap pengendalian virus HIV/AIDS harus mencerminkan nilai-nilai agama dan norma/budaya setempat. Ketiga, kegiatan pengendalian harus diarahkan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan prajurit dan keluarga TNI yang didukung masyarakat. Keempat, memantapkan perilaku sehat dan mencegah penularan virus HIV/AIDS bagi prajurit TNI. Kelima, kebijaksanaan, program, dan kegiatan harus menghormati harkat dan martabat anggota TNI yang  terinfeksi HIV/AIDS. Keenam, setiap anggota TNI berhak mendapatkan informasi yang benar untuk melindungi diri dan orang lain terhadap infeksi HIV/AIDS.

 

5)   Kemudian yang perlu dicatat dalam program pear leader training ini adalah

penanganan terhadap perilaku menyimpang anggota TNI. Berbagai upaya itu bermuara pada satu fokus yaitu kondisi yang sehat/kondusif yang memungkinkan agar anggota TNI berkembang baik fisik, mental, dan sosialnya secara optimal sehat. Untuk itu perlu koordinasi semua pihak yang terkait yakni MABES, KOTAMA, dan lain-lain sesuai dengan ruang lingkup tugasnya masing-masing.

 

b.        Keadaan  Prajurit Yang Lebih Baik.

1. Penanganan terhadap perilaku menyimpang bagi anggota TNI diperhatikan dan dijalankan dengan seksama untuk membuat keadaan prajurit yang lebih baik. Berbagai upaya itu bermuara pada satu tujuan yaitu kondisi yang sehat/kondusif yang memungkinkan agar anggota TNI berkembang baik fisik, mental, dan hubungan sosialnya secara optimal serta sehat. Untuk itu perlu koordinasi dengan semua pihak yang terkait yakni MABES TNI, KOTAMA, Komandan satuan, Prajrit dan komponen lainnya sesuai dengan ruang lingkup fungsi  masing-masing.

2.  Kesehatan anggota TNI terjaga dan  hal yang sangat penting, adalah pemahaman yang tinggi tentang bahaya yang akan selalu mengancam jiwa, bahkan masadepan karir dan masadepan keluarga. Dalam masalah HIV/AIDS, prajurit memahami  bahwa virus penyakit ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia (pengidap) yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Oleh karenanya mereka dengan penuh kesadaran menerapkan ilmu pengetahuannya yang diterimanya tentang bahaya AIDS dan selalu menjaga untuk menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi anggota TNI untuk menghindarinya.

3. Tingkat penderita atau pengidap HIV/AIDS yang paling banyak didominasi oleh anggota TNI dapat ditekan atau tidak bertambah sama sekali, sehingga tugas pokok TNI sebagai unsur pertahanan Negara dalam membela dan menjaga kedaulatan RI dapat dilaksanakan secara maksimal dan professional.

4. Tidak ada lagi pemberitaan  seperti dirilis Depkes Republik Indonesia  dalam setiap  triwulannya yang menyatakan  anggota TNI terserang atau bertambah jumlah penderitannya. Harapan ini akan semakin menambah tingkat kepercayaan masyarakat dan kewibawaan prajurit dimata rakyat, hal ini berarti membantu pemerintah dan badan dunia dalam program menekan laju perkembangan virus yang sangat mematikan ini.

c.       Kekuatan  Yang Dimiliki Prajurit TNI.     

1)       Pancasila.     Merupakan landasan Negara yang menekankan atas azas Ketuhanan dan kemanusiaan,menjadikan masyarakat Indonesia memiliki daya tangkal yang kuat terhadap sikap dan prilaku yang beresiko tinggi.   Kekuatan yang kita miliki yaitu Pancasila sebagai dasar negara. Butir-butir yang terkandung di dalam Pancasila, akan mengokohkan prajurit TNI untuk selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Terlebih-lebih sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan pengamalan sila pertama ini, memberikan sebuah kekuatan yang luar biasa bagi prajurit TNI untuk selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, anggota TNI akan terhindar dari prilaku yang berakibat penyebaran virus yang mematikan .

2)       Adat istiadat. Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam dan selalu menjunjung tunggi budaya leluhur. Adat istiadat yang menjadi kebanggaan masyarakat yang mayoritas beragama Islam, sangat memahami akan ketaatan dan ajaran yang terdapat dalam Alquran dan bimbingan dari para Ulama terutama hubungan sosial dengan masyarakat.

3)       Hukum dan perundang-undangan. Sapta Marga, sumpah Prajurit dan 8 wajib TNI serta  Pembukaan UUD 1945 adalah wajah dari bangsa Indonesia dalam haini TNI yang harus selalu dijunjung dan dijadikan sebagai dasar hukum bagi setiap tindak dan tanduk anggota TNI. Nilai-nilai dan karakter yang dianut oleh prajurit TNI, harus sesuai dengan peraturan, demi tercapaian tujuan bangsa Indonesia seperti tertuang di dalamnya.

4)       Adat Timur.   Budaya yang dijunjung tinggi dan merupakan kebanggaan bangsa Indonesia ini akan berdampak kepada prilaku sehari-hari, kenyataan ini akan menekan laju terhadap perbuatan tindakan yang beresiko. Bangsa Indonesa memiliki nilai-nilai dan budaya timur yang sangat menjunjung tinggi norma dan adat istiadat serta sopan santun pergaulan. Nilai-nilai budaya timur ini merupakan sebuah peluang yang luar biasa untuk dijadikan sebuah kekuatan bagi prajurit TNI agar terhindar dari virus HIV/AIDS. Nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, sangat membenci budaya free sex dan nilai-nilai budaya barat yang sangat jauh dari nilai-nilai  agama yang dianut bangsa Indonesia.

5)       Kehormatan Prajurit.         Anggota TNI sebagai contoh pelaku disiplin di kalangan masyarakat, akan memacu prajurit TNI untuk memegang kehormatan yang dipercayakan rakyat sebagai pelindung bagi masyarakat. Jika anggota TNI terjangkit oleh virus HIV/AIDS yangmematikan tersebut, image anggota TNI akan rusak dihadapan masyarakat. Akibatnya, tentu  kepercayaan masyarakat terhadap prajurit TNI akan menurun, hal ini akan sangat membahayakan bagi ketahanan  bangsa dan negera Indonesia. Sehingga kondisi ini akan ditaati dan dipegang teguh.

c.    Pengidap HIV/AIDS dapat ditekan.

a.           Harus merupakan kebutuhan yang amat mendesak bagi pemerintah untuk mendapatkan cara yang efektif menurunkan perilaku berisiko yang menyebabkan infeksi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang lain pada populasi militer. Perubahan perilaku yang berdasar pada pengetahuan yang di dapat prajurit dan ketrampilan yang dipelajari, dan sosialisasi adalah metode yang efektif untuk menurunkan perilaku berisiko.

 

b.           Indonesia termasuk di antara negara-negara di Asia yang mendapat perhatian khusus dalam upaya mengantisipasi ledakan epidemi HIV/AIDS di benua itu, kata Direktur Eksekutif UNAIDS, Peter Piot, dalam Laporan Epidemi Global AIDS 2004. Penyakit yang dapat ditularkan penderita ke orang lain melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik yang tidak steril (di antara para pecandu narkoba) maupun transfusi darah itu kini tidak lagi cukup dilihat secara tradisional sebagai isu kesehatan, sosial, dan ekonomi semata.

 

c.            Laporan mutakhir UNAIDS (Program PBB Untuk AIDS) dan WHO bulan Desember 2002 sudah memasukkan Indonesia sebagai negara yang menunjukkan kecenderungan baru yang berbahaya. Diperkirakan kini sudah ada 43.000 pengguna narkotik suntik tertular HIV, dan jumlah ini akan terus melesat pesat.Sayangnya, ancaman "bom waktu" AIDS tetap kurang menarik perhatian kalangan petinggi media massa nasional.[10]

/d. Papua . . .

d.           Papua mengalami epidemi terburuk, dengan tingkat penularan tertinggi melalui jalur seks komersial. Di Merauke sekitar 26,5 persen perempuan penjaja seks terinfeksi HIV. Sedang proporsi kasus AIDS yang dilaporkan di sana mencapai 30 kali lebih besar daripada rata-rata nasional. Sudah banyak ditemukan dalam suatu keluarga, suami dan istri serta anak mereka terjangkit HIV atau ada yang sudah mati karena AIDS. Situasi ini mirip dengan situasi epidemi AIDS di wilayah Afrika sub-Sahara. Diduga faktor kemiskinan, keterbelakangan, ketimpangan jender, perilaku seks dengan banyak pasangan, serta ketidaktahuan, telah mendorong ledakan epidemi HIV/AIDS di berbagai wilayah Papua, seperti Merauke, Timika, Sorong, Wamena, dan Jayapura.

 

e.           Di Jakarta dan Bali, juga di kota-kota besar lain di Jawa maupun luar Jawa, terus berlangsung penularan HIV dengan laju yang pesat, khususnya melalui jalur napza (narkotik/psikotropik dan zat adiktif lain) suntik. Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta tahun lalu tingkat infeksi HIV di kalangan pasiennya yang menggunakan napza suntik mencapai 48 persen. Sedang di dua lokasi di Jakarta yang dikenal banyak pengguna napza suntiknya, tingkat penularan HIV mencapai rekor, yaitu sekitar 93 persen! Di Lembaga Pemasyarakatan Krobokan Bali tercatat 53 persen, dan di Bandung sudah 24,5 persen.[11]

 

g.      Hasil survei perilaku kaum lelaki di beberapa kota di Indonesia (Denpasar, Makassar, dan Kupang) tahun 1998-2000 menunjukkan, bahwa hanya sekitar 10 persen yang melakukan pantang seks (abstinensia) dan 30 persen setia pada pasangan/istri mereka. Selebihnya, lebih dari 50 persen kaum pria di tiga kota ini membeli jasa seks setahun terakhir. Survei yang dilakukan Dr Pandu untuk disertasinya di UCLA (2001) menunjukkan di antara kelompok masyarakat umum di pedesaan Jawa Barat sekitar 4 persen lelaki dewasa mengaku membeli jasa seks dalam tenggang waktu enam bulan sebelum dilakukan survei.[12]


d.  Prajurit TNI yang positif HIV/AIDS tidak bertambah lagi.

a.       Infeksi HIV di dikalangan Prajurit dapat ditekan sehingga dari tahun ke tahun tidak mengalami penambahan jumlah baik dikalangan Prajurit maupun keluarganya. Sejak ditemukannya kasus pertama pada tahun 1987 hingga saat ini jumlah penderita kususnya dikalangan prajurit terus meningkat meskipun angka peningkatan tidak terlalu tajam. Data terakhir yang dilaporkan Dirjen Depkes RI tercatat bahwa hingga akhir september 2001 telah didentifikasi 1678 kasus HIV Positif yang pada suatu saat nanti akan masuk ke stadium AIDS. Lebih dari 75 % diantaranya adalah laki-laki dan 2,1% nya adalah anggota TNI. Dengan diketahuinya jumlah yang telah terinfeksi virus ini maka diharapkan tidak lagi adanya pertambahan setiap tahunnya.

b.      Kerjasama yang pernah terjalin antara DEPHAN RI dengan Mabes TNI untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan kususnya penyebaran virus HIV di kalangan prajurit dapat ditingkatkan dan berjalan kembali dengan program-program yang saat ini belum maksimal seperti pengkaderan Pear Leader Training,  realisasi prajurit yang paham mengenai bahaya dan cara mencegahnya, turut campurnya setiap unsur pimpinan satuan tentang bahaya yang akan menyerang dan mengancam prajuritnya dan perhatian Pemerintah yang mau peduli dengan bahaya yang berada  didepan dan selalu siap menghadang untuk menghancurkan bangsa. 

e.  Prajurit TNI yang mati karena HIV/AIDS dapat ditekan.

Banyaknya prajurit yang mati sia-sia dalam beberapa tahun mendatang akan dapat dipastikan karena sifat virus yang menyerang selain tidak dapat disembuhkan dan jumlah angka kesempatan untuk tertular semakin tinggi. Bagi penderita yang telah mengetahui bahwa dirinya terhidap virus HIV, diharapkan tidak lagi menularkan penyakitnya kepada prajurit yang lain sehingga secara dini prajurit yang terifeksi dapat menjaga dan rela mengorbankan dirinya untuk tidak menularkan kepada prajurit yang lain dengan cara-cara penularan yang telah dijelaskan didepan. mengetahui keadaan dirinya, para pengidap dapat memberikan nasehat atau pemahaman tentang keadaan yang sengat rawan terhadap cara-cara penularannya.

Kendala-kendala yang sering dihadapi para prajurit TNI adalah sebagian dari penderita tidak mau memeriksakan dirinya untuk meyakinkan apakah dirinya sedah terinfeksi atau belum, kenyataan ini perlu diketahui oleh setiap penderita dengan harapan bahwa penderita tidak akan menularkan virusnya kepada orang lain atau keluarganya dan hal ini akan sangat membantu proses penekanan jumlah penderita. Demikian pula dengan  adanya beberapa pengaruh yang sangat cepat berkembang dan sulit untuk dihindari seperti :

1)       Pengaruh Teknologi informasi dan telekomunikasi berdampak terhadap cara berpikir dan pengaruh secara langsung bagi masyarakat terutama Prajurit TNI, pada masa usia remaja dan dewasa masuknya contoh-contoh prilaku budaya luar yang berprilaku bebas terutama terhadap hubungan pasangan lain jenis (sex bebas).

2)       Penugasan luar negeri yang diberikan kepada prajurit TNI berdampak adanya peluang besar terhadap pengaruh budaya luar dan adanya peluang tertularnya penyakit yang disebabkan sex bebas yang didapat dari negara tempat mereka di tugaskan.

2)   Adanya kunjungan atau penugasan prajurit dari Negara Asing yang akan melaksanakan tugas pendidikan atau latihan, memberi adanya peluang tertular virus HIV/AIDS bagi wanita penjaja sex komersial di Indonesia, kondisi ini dapat dengan cepat tertularnya Virus ini.

3)   Kesehatan bagi kalangan anggota TNI adalah hal yang sangat penting. menyoroti masalah HIV/AIDS, satu virus penyakit yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia (pengidap) yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Oleh karenanya ini menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi anggota TNI untuk menghindari virus ini sebab ia dapat menyebabkan terjadinya masalah yang berat di kalangan internal TNI.

f.  Solusi Permasalahan Yang Dihadapi

Sehubungan dengan hal itu dan dalam rangka ikut menanggulangi masalah HIV/AIDS di Indonesia khususnya di jajaran TNI, maka  Panglima TNI telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor Skep/374/X/2004 tanggal 8 Oktober 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan HIV/AIDS di Lingkungan TNI.

Adapun hal-hal penting yang belum diketahui dan dipahami secara seksama oleh seluruh prajurit, dan keluarga di lingkungan TNI adalah sebagai berikut :

1)        Apa itu HIV/AIDS ?
 HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga membuat tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.          
2)       Siapa Pengidap HIV dan Penderita AIDS ?
Pengidap HIV adalah seseorang yang terinfeksi HIV, tetapi belum menunjukkan gejala-gejala AIDS, namun sudah potensial sebagai sumber penularan. Penderita AIDS adalah pengidap HIV yang sudah menunjukkan gejala-gejala spesifik AIDS maupun gejala-gejala karena infeksi opportunity.

3)      Apa penyebab AIDS ?
AIDS disebabkan oleh HIV yang merusak salah satu jenis sel darah putih yaitu sel limfosit atau sel T helper atau CD4. Sel darah putih merupakan pengendali bagi system pertahanan tubuh. Jika sel darah putih hancur akan mengakibatkan lumpuhnya fungsi pertahanan tubuh.

4)      Perjalanan infeksi, gejala / tanda-tanda seorang pengidap HIV/AIDS :

(a)       Masa Jendela (window period). Terjadi antara satu sampai dengan enam bulan. Gejala yang timbul berupa flu biasa, pada tahap ini, tes darah masih belum dapat menunjukkan adanya HIV (anti HIV negatif).

(b)       Masa HIV positif (tanpa gejala). Pada masa ini seseorang yang terinfeksi HIV sudah dapat diketahui melalui tes HIV (anti HIV reaktif). Masa ini berlangsung selama lima s/d sepuluh tahun dengan tanpa gejala (asimptomatik), belum menunjukkan perubahan fisik dan masih dapat melakukan aktivitas.

(c)       Masa pembesaran kelenjar limfe (bergejala ringan). Masa ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata, tidak hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari satu bulan.
.
(d)       Masa AIDS. Setelah melewati masa inkubasi (dua s/d sepuluh tahun), seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami penderitaan sebagai berikut :

(1)     Demam berkepanjangan.
(2)     Selera makan menurun.
(3)     Sariawan.
(4)     Diare terus-menerus tanpa sebab yang jelas.
(5)     Pembengkakan kelenjar prostat dan getah   bening.
(6)     Bercak-bercak merah di kulit.
(7)     Berat badan turun dratis.

(e)      Pada masa ini sisitem kekebalan tubuh sudah sangat menurun, dan pengidap HIV berkembang menjadi penderita AIDS yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman infeksi oportunistik seperti radang paru, radang saluran pencernaan, kanker kulit, radang karena jamur di mulut dan kerongkongan, gangguan susunan syaraf dan tuberkulosis (TB). Umumnya sekitar satu s/d dua tahun setelah gejala AIDS muncul, penderita akan meninggal dunia.   

5)      Bagaimana cara penularannya ?
               HIV ditularkan melalui 3 cara, yaitu :
(a)      Melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS yang tidak terlindung (tanpa kondom).

(b)     Melalui tranfusi darah yang berasal dari pengidap HIV atau penggunaan jarum suntik secara bergantian seperti pada penyalahgunaan Narkoba suntik.

(c)      Melalui ibu hamil pengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya, yang dapat terjadi pada proses melahirkan atau waktu menyusui.

6)      Siapa yang mudah terinfeksi HIV ?
 Semua orang beresiko terinfeksi HIV. Namun ada beberapa kelompok yang tergolong beresiko tinggi antara lain : Pekerja seks komersial (PSK) dan pelanggannya, serta pengguna Narkoba suntik (Injecting Drug User / IDU).

7)       Bagaimana agar terhindar HIV/AIDS ?
     Gunakan rumus ABCD :
A (Abstinence) : artinya jauhi sex, khususnya bila anda belum berkeluarga atau jauh dari keluarga.

B (Be Faithful) : artinya bersikap saling setia pada satu pasangan.

C (Condom) : artinya cegah infeksi HIV dengan menggunakan kondom pada saat  melakukan hubungan seksual.

D (Drug) : artinya jangan sekali-kali memakai drug/narkoba apalagi dengan cara  menyuntik.


BAB-V
P E N U T U P

19.     Kesimpulan.

a.           Personel TNI dapat tertular virus HIV/AIDS melalui kontak seksual, dengan menggunakan jarum suntik bekas, melalui transfusi darah, atau komponennya. Resiko infeksi oleh virus ini selalu  bertambah akibat  adanya mitra sexual yang bertambah pula. Sebagian besar anggota TNI yang terjangkit virus AIDS tidak menunjukkan gejala dalam beberapa tahun tertentu, malah merasa sehat. Sebagian anggota TNI lainnya memperlihatkan gejala yang termasuk badan lelah, demam, hilang selera makan, timbangan badan merosot, diare, berkeringat di waktu malam, kelenjar membengkak-biasanya dibagian leher, ketiak, dan selangkangan. Namun, lama-kelamaan virus ini bisa menyebabkan pada kematian pada anggota TNI.

b.           Banyak anggota TNI yang terjangkit virus HIV/AIDS. Sebagian besar mereka, anggota TNI yang tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan dari seringnya berprilaku sex bebas, atau lemahnya pemahaman agama yang diyakininya. Namun  jumlahnya hingga saat ini masih dirahasiakan. Sebagai solusi untuk menanggulanginya, Mabes TNI maupun Dephan  belum memaksimalkan Frekuensi pelatihan Pear Leader Training yang hanya sikali dalam setahun.

c.            Belum dilaksanakannya arahan secara berasama-sama seperti kerja sama dan komunikasi di semua angkatan, badan Pemerintah, LSM dan Lembaga Kesehatan dunia sehingga terwujud visi, misi, persepsi dan interpretasi yang sama dalam menanggulangi masalah HIV/AIDS khususnya  di lingkungan TNI, dengan melihat tendensi peningkatan jumlah kasus infeksi yang ada saat ini tercatat banyaknya anggota TNI yang terjangkiti
virus HIV/AIDS.

20.     Saran.

a)           Disarankan agar personil TNI dapat terhindar dari virus HIV/AIDS, dapat dilakukan dengan upaya-upaya preventive berupa penyuluhan dan pendidikan kepada anggota, keluarga, maupun lingkungan masyarakat sekitarnya  . Bagi anggota TNI, agar selalu berupaya sekuat tenaga menghindari dirinya terhadap prilaku yang beresiko tertularnya dari virus yang mematikan ini, sebab jika tertular sudah tidak ada tawaran  kecuali nyawa taruhannya.

b)           Sebelum personil TNI diberangkatkan ke luar negeri atau penugasan yang berjangka lama dan meninggalkan keluarga (istri) supaya diberikan pengarahan dan pembekalan yang tegas untuk tidak  melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama dan budaya bangsa. Terlebih-lebih melakukan hubungan sex dengan yang bukan istri. Jika melakukan hal ini, tentu akan mengalami proses hukum dan memalukan korps TNI dan keluarga, untuk itu diperlukan mekanisme kontrol yang ketat bagi anggota TNI yang bertugas ke luar negeri bai oleh dirinya sendiri maupun keluarga dan pimpinannya

c)           Menggalang suatu kerjasama yang terpadu dan menyeluruh kepada seluruh prajurit dan dan instansi yang terkait baik pemerintah, LSM, maupun badan dunia dalam memadukan upaya-upaya untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS di kalangan TNI. Mabes TNI maupun Dephan perlu meningkatkan frekuensi pelatihan pembentukan Pear Leader training dari satu tahun sekal ditiap kotama menjadi empat kali di empat kotama.   Sumbang saran penanggulangan permasalahan yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS baik pengambil keputusan di TNI maupun masyarakat luas, hal ini mutlak diperlukan demi penyelamatan anggota TNI dari virus yang belum ada obatnya ini.

No comments:

Post a Comment